Banten, bantenpedia.id – Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII Banten-DKI Jakarta memperingati Hari Purbakala Nasional ke 111 tahun. Acara tersebut mengusung tema “Semarak purbakala ceria bersama cagar budaya” yang berlangsung di Danau Tasikardi Kota Serang. Sabtu, 22 Juni 2024.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Banten, Dendi Hamadani juga bercerita tentang salah satu Situs Purbakala yang ada di kawasan Banten Lama , yaitu Masjid Agung Banten dan Meriam Ki Amuk.
Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Masjid ini terletak di Banten Lama, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten, Indonesia. Masjid ini adalah salah satu dari sedikit peninggalan yang tersisa dari bekas Kota Kuno Banten—pusat perdagangan paling makmur di Indonesia—setelah jatuhnya Kesultanan Demak pada pertengahan abad ke-16.
Masjid ini dibangun pertama kali pada 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati. Masjid Agung Banten berdenah segi empat dengan rancang bangun yang unik. Arsitekturnya merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Eropa.
Ini dikarenakan pembangunannya melibatkan tiga arsitek dari negeri yang berbeda. Raden Sepat merupakan arsitek utama berasal dari Majapahit yang juga menukangi Masjid Cirebon; Tjek Ban Tjut arsitek asal Cina; dan Hendrik Lucaz Cardeel asal Belanda. Atas jasa-jasa mereka menegakkan simbol kebesaran Islam itu, Tjek Ban Tjut dianugerahi gelar bangsawan dari kesultanan dengan nama Pangeran Adiguna. Sedangkan, Hendrik Lucaz Cardeel yang kemudian diketahui memeluk Islam mendapatkan gelar Pangeran Wiraguna.

Meriam Ki Amuk adalah sebuah Meriam kuno milik Kesultanan Banten yang saat ini berada di depan Mesjid Agung Banten Provinsi Banten. Meriam Ki Amuk konon dulu dipergunakan untuk menjaga Pelabuhan Karanghantu yang berada di Teluk Banten.
Menurut legenda, Meriam Ki Amuk adalah penjelmaan Prajurit Kesultanan Demak yang dikutuk. Tetapi menurut versi sejarah, meriam ini dibuat di Jawa Tengah abad 16 sekitar tahun 1527 M, yang kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Banten oleh Sultan Trenggono yang pada awalnya bernama Ki Jimat. Meriam Si Jagur yang di halaman Museum Fatahillah Jakarta adalah “kembaran” dari Meriam Ki Amuk.
Meriam Ki Amuk terbuat dari Perunggu dengan berat 7 ton, panjang 3 meter diameter luar terbesar 0,70 m, diameter dalam mulut 0,34 m. Ia menembakkan peluru meriam seberat 180 pon (81,6 kg).
Lambang Surya Majapahit dapat dilihat di mulutnya. Ada dua prasasti berhuruf Arab di meriam ini. Yang pertama berbunyi “Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani” yang berarti “Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman”. Prasasti kedua berbunyi “La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta” yang berarti “Tiada pemuda kecuali Ali, tiada pedang selain Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati”.
Dendi Hamadani mengajak masyarakat untuk dapat menjaga dan melestarikan Situs Purbakala peninggalan sejarah leluhur. ” HUT Purbakala ke 111 tahun ini, mari kita lestarikan dan jaga bersama warisan purbakala kita!” ajak nya. (Adv)


