SERANG – Untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), Dinas Kesehatan Provinsi Banten pada tahun 2025 melaksanakan serangkaian pelatihan peningkatan kompetensi bagi tenaga kesehatan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memastikan seluruh SDM kesehatan mampu memberikan pelayanan yang profesional, sesuai standar dan pedoman terbaru.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Ati Pramudji Hastuti, mengatakan bahwa peningkatan kapasitas SDM kesehatan merupakan bagian penting dari transformasi layanan kesehatan daerah.
“Pelayanan kesehatan yang berkualitas dimulai dari tenaga kesehatan yang kompeten dan terus mengikuti perkembangan standar layanan. Karena itu, setiap tahun kami memperkuat kapasitas dokter, bidan, perawat, hingga tenaga penunjang kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal,” ujar dr. Ati. Kamis, (20/11/25).
Salah satu kegiatan utama pada tahun 2025 adalah Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk fasilitas pelayanan kesehatan primer. Pelatihan ini ditujukan bagi tenaga K3 di Puskesmas untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengimplementasikan program K3 sesuai kebutuhan dan kondisi wilayah masing-masing.
“Petugas K3 harus memiliki kesiapan dalam menjaga keamanan lingkungan kerja, baik bagi tenaga kesehatan maupun pasien. Dengan pelatihan ini, kami ingin memastikan semua Puskesmas memiliki SDM K3 yang benar-benar berkualitas,” kata dr. Ati.

Selain itu, Dinkes Banten juga menyelenggarakan Pelatihan Pengelolaan Limbah di Fasyankes, yang menyasar petugas sanitarian. Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas petugas dalam penyelenggaraan kesehatan lingkungan serta pengelolaan limbah medis sesuai pedoman dan regulasi terbaru.
“Pengelolaan limbah medis harus dilakukan dengan sangat ketat dan sesuai standar. Ini penting untuk mencegah risiko kontaminasi dan menjaga kualitas lingkungan fasilitas kesehatan,” jelas dr. Ati.
Untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi kasus kegawatdaruratan, Dinas Kesehatan Provinsi Banten juga mengadakan Pelatihan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) bagi dokter dan perawat. Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menangani henti jantung, serangan jantung, serta kondisi gawat darurat kardiovaskular lainnya.
“Latihan ACLS menjadi sangat penting karena kasus kegawatdaruratan jantung memerlukan respons cepat dan tepat. Dengan pelatihan ini, dokter dan perawat kita akan semakin siap menyelamatkan lebih banyak nyawa,” tutur dr. Ati.
Tidak hanya itu, Dinkes Banten juga melaksanakan On The Job Training (OJT) Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal bagi dokter, bidan, dan perawat di Puskesmas Kabupaten Serang. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan petugas PONED dalam menangani kondisi darurat ibu hamil, persalinan, maupun bayi baru lahir.
“OJT ini bagian dari komitmen kami untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Petugas lapangan harus mampu mengambil tindakan cepat dan tepat, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan,” tegas dr. Ati.
dr. Ati menegaskan bahwa seluruh rangkaian pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Banten dalam memperkuat pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
“Kami ingin masyarakat Banten mendapatkan layanan kesehatan terbaik. Karena itu, penguatan kompetensi tenaga kesehatan akan terus dilakukan secara berkesinambungan,” tutupnya. (Adv)


