“Awal membuka dezain.in, modal pertama saya hanya satu buah laptop hadiah dari mantan atasan pas resign itu plus tabungan sebesar gaji di bulan terakhir saya bekerja. Selebihnya hanya nama baik. Begitu klien yang satu puas dengan karya saya, alhamdulillah mereka sukarela bantu promosiin dezain.in ke kolega mereka yang lain,” ceritanya.
Chogah mengatakan, kunci menjadi desainer bukan semata-mata kemampuan teknis di software desain. Namun, seorang desainer juga harus diperkaya dengan wawasan teknologi, sains, seni, sosial dan budaya, filsafat, dan etika.
“Dari ilmu-ilmu itu, karya desain menjadi lebih punya orientasi. Kita juga bisa menangkap dan menerjemahkan keinginan klien. Jika hanya punya skill secara teknis, karya kita akan stagnan. Karya kita gak punya nyawa,” ujarnya.
Kini, setelah sekian lama bergelut sebagai freelancer, portofolio Chogah makin menumpuk. Tercatat sejumlah BUMN, perusahaan swasta, dan instansi pemerintahan menjadi pelanggan rutinnya. Dia juga pernah terlibat dalam membantu konsep dan eksekusi desain komunikasi digital sejumlah calon kepala daerah dan anggota legislatif. Beberapa kliennya tak hanya dari Indonesia, namun merambah sampai ke luar negeri seperti Hong Kong, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Dari ilmu-ilmu itu, karya desain menjadi lebih punya orientasi. Kita juga bisa menangkap dan menerjemahkan keinginan klien. Jika hanya punya skill secara teknis, karya kita akan stagnan. Karya kita gak punya nyawa. Setiawan Chogah
Chogah menyebut, prinsip bisnisnya adalah selalu berupaya memberikan layanan terbaik untuk klien. Bahkan, di awal-awal dirinya tak pernah mematok harga untuk karya desainnya. Namun kini, setelah setahun mencoba fokus berbisnis dari rumah, pria ini bisa menghasilkan puluhan juta per bulan hanya bermodalkan laptop dan internet.


