Kota Tangerang, Bantenpedia.id – Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.
Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun.
Hal tersebut dikatakan Yusuf Alfian Geovany, Sekretaris DP3AP2KB Kota Tangerang saat Kegiatan Orientasi Dapur Sehat Atasi Stanting (DASHAT) di Gedung Cisadane Kota Tangerang yang di selenggarakan oleh DP3AP2KB Kota Tangerang dan di ikuti TP PKK se Kota Tangerang. Rabu, (8/3/23)
Menurut Yusuf, bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius.
“ Tapi Alhamdulillah, Kota Tangerang dinilai berhasil menurunkan angka stunting selama lima tahun berturut-turut, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Awal mula di 2018, angka stunting di Kota Tangerang mencapai 19,1 persen, lalu menurun menjadi 16,4 persen di 2019, dan 15,3 persen 2021 dan 2022 mencapai 11,8 persen. Ini masih di bawah angka stunting Nasional 21,6 persen dan Provinsi Banten 20 persen,” ujar Yusuf
Sementara itu, Wakil Ketua TP. PKK Kota Tangerang Masturoh Sahrudin mengaku kaget dengan adanya informasi ada 1.000 kasus stunting di Kota Tangerang. Hal tersebut dikarenakan selama turun ke lapangan pihaknya tidak menemukan kasus tersebut.
“Sempat kaget juga ada informasi 1.000 kasus stunting di Kota Tangerang padahal sering kelapangan itu tidak ada, mungkin data itu tahun tahun dulu dan sekarang Alhamdulillah berkat kerjasama semua pihak angka stanting di Kota Tangerang sudah turun hingga 11,8 persen,” ungkap Mustaroh.
Lebih lanjut, Mustaroh mengatakan program penanganan stunting dilakukan mulai dari langkah preventif hingga kuratif sejak pasangan pra-nikah hingga proses tumbuh kembang 1.000 hari pertama kehidupan bayi.
“Intervensi dilakukan mulai dari edukasi bagi remaja, pelatihan dan pendampingan oleh kader TP. PPK hingga pelayanan balita stunting. Harapan saya di Kota Tangerang bebas dari stunting” pungkasya. (Fj)


